All for Joomla All for Webmasters

Social Login

Remember me
Visi Dan Misi

Wisata Alam

1. Jalur Sungai Nilo

Sungai Nilo merupakan bagian dari sejarah desa Lubuk Kembang Bunga yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa. Sungai Nilo, secara adminitratif, sebagian besar masuk pada wilayah desa Lubuk Kembang Bunga. Vegetasi di sepanjang sungai didominasi jenis-jenis palmae seperti rotan, pandan dan lainnya. Di sepanjang tepian sungai ini juga dapat ditemukan pohon sialang (pohon tempat madu lebah bersarang) dan beragam jenis satwa, mamalia maupun burung. Disamping itu, masyarakat desa pada umumnya banyak melakukan aktifitas di sepanjang sungai ini seperti mencari ikan (memancing, menjala, menggunakan bubu), sebagai jalur transportasi dan sebagainya.

 

Objek wisata Sungai Nilo merupakan wisata penelusuran sungai. Sungai Nilo merupakan sungai terbesar yang mengaliri TNTN. Bagi orang yang senang dengan penelusuran sungai, Sungai Nilo sangat cocok untuk di arungi. Disepanjang sungai dapat diamati beragam jenis satwa seperti Ungko (Hylobates ungko), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Bajing (Callosiurus sp.), Musang air (Cynogale benettii), Bubut besar (Centropus sinensis), Kirik-kirik biru (Merops viridis), Elang ikan (Spilornis cheela), Julang emas (Aceros undulatus), Kowak malam merah (Nycticorax caledonicus), Tiong emas (Gracula religiosa), Betet ekor panjang (Psittacula longicauda), Serindit melayu (Loriculus galgulus), Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Punai gading (Treron vernans), Delimukan zamrud (Chalcophaps indica), Cangak merah (Ardea purpurea), Raja udang meninting (Alcedo meninting), Srigunting Batu (Dicrurus paradiseus), Biawak (Varanus salvator), pohon sialang dan lain sebagainya.

 

 

 

2. Jalur Sawan 

Jalur pengamatan Sungai Tampak merupakan jalur darat yang terletak di antara Sungai Nilo dan Sungai Sawan. Jalur pengamatan ini di mulai dan di akhiri pada muara Sungai Sawan. Panjang jalur ini ± 3 km dengan medan yang cukup bervariasi seperti melewati anak sungai, tanah kering, dan rawa, namun agak datar. Secara umum, jalur ini dapat di tempuh dengan jalan santai dengan total waktu perjalanan ± 4 jam. Pada bagian awal jalur ini, melalui pinggiran Sungai Sawan dan diakhiri pada pinggiran Sungai Nilo. Pada bagian tengah jalur pengamatan juga terdapat jalur yang lebih pendek dengan tutupan vegetasi yang bervariasi yang dinamakan Jalur Tampak .

 

Pada jalur pengamatan ini dapat ditemukan beragam jenis flora fauna yang terdapat di Tesso Nilo seperti: Tapir (Tapirus indicus), Gajah Sumatera (Elephas maximus), Simpai (Presbytis melalophos), Bajing (Callosiurus sp.), Ungko (Hylobates ungko), Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus javanica), Napu (Tragulus napu), Babi hutan (Sus scrofa), Betet ekor panjang (Psittacula longicauda), Pijantung kecil (Arachnotera longirostra), Delimukan zamrud (Chalcophaps indica), Raja udang meninting (Alcedo meninting), Srigunting Batu (Dicrurus paradiseus), Kehicap ranting (Hypothymis azurea), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cica daun sayap biru (Chloropsis cochinchinensis),  Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Rangkong gading (Buceros vigil), Kirik-kirik biru (Merops viridis), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), Julang emas (Aceros undulatus), Bubut besar (Centropus sinensis), jenis-jenis pelatuk, jenis-jenis takur, jenis-jenis tepus dan lain sebagainya. Pada jalur ini dapat juga ditemukan Nangka hutan, Tampui, Durian hutan, jenis-jenis anggrek dan sebagainya.

 

 

 

3. Jalur Nilo

Jalur pengamatan Nilo merupakan jalur darat yang yang menyusuri Sungai Nilo ke arah hulu (lihat peta). Jalur pengamatan ini di mulai di Lubuk Balai dan di akhiri di Koitapa dengan panjang jalur ini ± 3 km. Medan yang ditempuh cukup bervariasi seperti melewati anak sungai, bekas kebun karet masyarakat Lubuk Kembang Bunga, tanah kering, dan rawa, namun agak datar. Secara umum, jalur ini dapat di tempuh dengan jalan santai dengan total waktu perjalanan ± 5 jam. Pada awal jalur ini, melalui kebun karet masyarakat kemudian memasuki hutan sekunder dengan tutupan vegetasi yang masih cukup baik. Di tengah jalur ini kita juga melalui beberapa anak sungai yang tidak terdapat dipeta topografi namun cukup dalam untuk di lewati apalagi pada saat air sedang melimpah. Pada bagian tengah jalur pengamatan juga terdapat jalur yang lebih pendek dengan tutupan vegetasi yang bervariasi.

 

Pengamatan flora fauna pada jalur ini hampir mirip dengan jalur Sawan. Pengamatan secara langsung maupun melalui tanda keberadaan beragam jenis satwa (kotoran, jejak, cakaran, kubangan) seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus), Bajing (Callosiurus sp.), Ungko (Hylobates ungko), Beruang madu (Helarctos malayanus), Simpai (Presbytis melalophos), Tapir (Tapirus indicus), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Kijang (Muntiacus muntjak), Napu (Tragulus napu), Babi hutan (Sus scrofa), Burung madu (Antreptes sp.), Kirik-kirik biru (Merops viridis), Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Delimukan zamrud (Chalcophaps indica), Raja udang meninting (Alcedo meninting), Srigunting keladi (Dicrurus aeneus), Kehicap ranting (Hypothymis azurea), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Julang emas (Aceros undulatus), Cica daun sayap biru (Chloropsis cochinchinensis), Rangkong gading (Buceros vigil), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), Bubut besar (Centropus sinensis), jenis-jenispelatuk, jenis-jenis takur, jenis-jenis tepus dan lain sebagainya. Pada jalur ini dapat juga ditemukan beragam jenis anggrek, jenis-jenis palmae, dan sebagainya .

 

 

 

4.   Jalur Wisata Gajah

Jalur wisata gajah merupakan perjalanan menyusuri hutan Tesso Nilo dengan menggunakan gajah jinak. Petualangan ini sangat mengasyikkan dengan jalur yang dilalui sungguh bervariasi, yaitu mulai dari jalan bekas logging, hutan sekunder muda dan tua, menyebrangi sungai, rawa, akasia, dan lainnya. Jalur wisata ini di mulai dan diakhiri pada Camp Flying Squad dengan panjang jalur ini ± 5 km. Pada pertengahan perjalanan kita juga melalui menara pengamatan setinggi ± 25 m. Dari atas menara  dapat di amati tutupan hutan Tesso Nilo. Waktu tempuh perjalanan ini secara keseluruhan ± 3 jam.

 

Pada jalur pengamatan ini agak berbeda dengan dua jalur diatas karena kondisi hutan di jalur ini sudah agak terbuka. Untuk menemukan tanda-tanda keberadaan jenis mamalia besar disini agak mudah dibandingkan dua jalur diatas. Untuk pengamatan burung secara umum lebih mudah disini namun panas terik yang menyengat akan jadi kendala. Jenis-jenis mamalia dan burung yang dapat ditemukan pada jalur ini baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak jauh berbeda dengan jalur-jalur sebelumnya yaitu seperti: Gajah Sumatera (Elephas maximus), Simpai (Presbytis melalophos), Bajing (Callosiurus sp.), Ungko (Hylobates ungko), Tapir (Tapirus indicus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Kancil (Tragulus javanica), Napu (Tragulus napu), Babi hutan (Sus scrofa), Betet ekor panjang (Psittacula longicauda), Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Kijang (Muntiacus muntjak), Delimukan zamrud (Chalcophaps indica), Raja udang meninting (Alcedo meninting), Srigunting Batu (Dicrurus paradiseus), Kehicap ranting (Hypothymis azurea), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cica daun sayap biru (Chloropsis cochinchinensis),  Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Rangkong gading (Buceros vigil), Kirik-kirik biru (Merops viridis), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), jenis-jenis wallet, jenis-jenis takur, jenis-jenis pelatuk dan lainnya.

 

Pada jalur pengamatan ini, kita dapat melihat tutupan hutan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo melalui menara pengamatan. Beragam jenis burung juga dapat  diamati secara langsung dari menara ini.  Di camp Flying squad, bermain-main dengan gajah jinak juga menjadi hiburan tersendiri bagi para pengunjung, namun tentunya sesuai dengan aturan baku yang diterapkan.

 

 

 

5.   Pemanenan Madu

Pemanenan madu pada pohon sialang merupakan salah satu atraksi wisata budaya yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo. Pohon sialang meliputi berbagai jenis pohon-pohonan yang menjadi tempat lebah madu barsarang, lebah madu bersarang secara alami dan tanpa pemeliharaan, sehingga produk madu yang dihasilkannyacenderung lebih disukai karena kealamiannya daripada madu lebah hasil budidaya.  Proses pemanenan sarang lebah madu yang memerlukan ritual khusus dan hanya dilakukan pada saat-saat tertentu di malam hari, mampu memberikan sensasi dan kenangan tersendiri bagi wisatawan yang menikmatinya.

 

 

 

6.  Camping Ground

Setiap tahunnya Balai Taman Nasional Tesso Nilo juga melaksanakan kegiatan Kemah Konservasi yang biasanya diikuti oleh sekolah yang berada di sekitar kawasan, dimana kegiatan ini digelar dalam rangka memperebutkan Piala Bergilir Kepala Balai TN.Tesso Nilo.

 

Kegiatan dimaksud untuk mengenalkan dan menanamkan kepedulian terhadap alam  kepada para anak usia agar tumbuh rasa cinta dan perhatian terhadap keberadaan Taman Nasional Tesso Nilo.


Like us on facebook

 

Kirim Pertanyaan