by

MENELISIK PELUANG BUDIDAYA HHBK (HASIL HUTAN BUKAN KAYU) ROTAN JERNANG (DAEMONOROPS SP)

OLEH
GILANG GALIANDRA
CALON POLHUT TN.TESSO NILO

Hutan memiliki fungsi penting dalam keseimbangan ekosistem, sebagai sumber kehidupan bagi keberlangsungan hidup mahkluk ciptaan Allah SWT baik, manusia, hewan dan tumbuhan. Pada zaman nenek moyang kita dahulu kehidupan manusia sangat bergantung pada hutan, seperti bertempat tinggal di pinggir sungai, mencari bahan makan atau berburu di dalam hutan dan kegiatan lainnya yang bersinggungan dengan alam. Seiring perkembangan zaman saat ini, di era Global sudah banyak perubahan kebiasaan manusia dan cenderung membangun untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Di beberapa negara yang memiliki hutan tropis, sudah banyak terjadi degradasi hutan, dengan adanya perubahan tutupan hutan untuk menjadi pemukiman dan pembangunan serta lahan perkebunan lainnya. Hutan selalu menjadi sasaran terakhir ketika kebutuhan akan lahan pertanian, dan perkebunan menjadi pilihan untuk mencari penghidupan.

Indonesia termasuk negara Agraris, sulit dihindarkan ketika adanya pertumbuhan jumlah penduduk dunia maka kebutuhan akan lahan pertanian untuk sumber pangan menjadi semakin besar. Tidak dapat dipungkiri kondisi hutan di Indonesia sudah banyak berubah dan hampir di setiap wilayah sudah tidak sesuai dengan kriteria fungsi kawasannya lagi. Seperti contoh perambahan hutan dan lahan yang ada di kawasan hutan dengan motif ingin memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini merupakan keadaan yang melanggar hukum secara terang terangan dan perlu ditindak lanjuti sesuai amanat Undang – Undang. Pengelolaan kawasan hutan di Indonesia sangat berperan strategis untuk mengatur dan menata ruang setiap wilayah untuk penggunaan lahan sesuai fungsi dan peranannya. Namun masih banyak ditemukan adanya kepentingan – kepentingan beberapa pihak yang menghambat proses penataan ruang wilayah. Apa yang terjadi? Hutan terus tedegradasi, euforia pembukaan lahan secara ilegal untuk dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit terus berjalan, penegakan hukum tidak mampu menimbulkan efek jera secara sepesifik, dan masyarakat belum merasakan dampak langsung manfaat dari hutan dan hasil hutan non kayu. Karena yang diadapi adalah masyarakat yang haus akan lahan dan penghasilan, tanaman perkebunan yaitu kelapa sawit telah merusak keindahan tegakan pohon di lebatnya rimba.

Maka upaya yang dilakukan oleh pihak pengelola hutan dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus mempersiapkan trobosan untuk komoditi kehutanan dalam hal ini HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang dapat tumbuh berdampingan dengan tanaman hutan untuk kelestarian jenis tanaman hutan dan kesejahteraan masyarakat dari hasil hutan non kayu.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah budidaya tanaman yang memiliki prospek pasar yang luas dan menjanjikan. Maka penulis mengangkat tanaman rotan jernang sebagai contoh yang dapat dibudidayakan. Untuk di wilayah Sumatera yang menjadi habitat tanaman rotan jernang (Daemonorops) yang berrpeluang untuk dibudidayakan dan dikembangkan.

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu/Monokotil)
Sub Kelas : Areciade
Ordo : Arecales
Famili : Arecaeae (Suku Pinang – Pinangan)
Genus : Daemonorops
Spesies : Daemonorops didymophylla, D. Draco, BL, D. Draconcellus BECC.
(Sumber : Buku Budidaya Tanaman Rotan Jernang Kementerian Kehutanan Badan Penyuluahn dan Pengembangan SDM
Kehutanan Pusat Penyuluhan Kehutanan Tahun 2013)

Mungkin masih banyak masyarakat yang tidak mengenal tanaman jernang, atau bahasa daerah disebut Jonang, jerenang tersebut. Tentu saja tanaman ini merupakan tanaman yang jarang dikenal karena tanaman ini tumbuh di lebatnya hutan belantara dan pada ketinggian tertentu yang sangat jarang diperhatikan bentuk tanamannya apalagi manfaat getah pada buahnya. Rotan jernang bukanlah tanaman yang dimanfaatkan rotan/batangnya untuk dijadikan prabot dan furniture. Rotan jerenang merupakan tanaman yang dimanfaatkan getahnya yang melekat dan melapisi buah rotan terebut. Getahnya berwarna merah kehitaman yang diolah untuk berbagai keperluan obat, hingga kosmetik

Kenapa membudidayakan rotan jernang ??

  1. Tentu sebagai seorang Rimbawan, kelestarian alam terjaga dan masyarkat sejahtera menjadi impian pengelola hutan di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan penyuluhan dan peyadaran bahwa kehutanan memiliki komoditi yang unggul dan dapat dibudidayakan dengan mudah. Karena tanaman rotan hidup dan tumbuh berdampingan dengan tanaman berkayu yaitu pepohonan yang menjadi tempat merambat atau bersandarnya batang rotan tersebut. Maka hal ini akan menjadi sinergi yang sangat tepat ketika ingin melestarikan hutan dan dapat memberi manfaat langsung pada perekonomian masyarakat sekitar hutan. Dengan Menanam rotan jernang diselingi dengan tanaman hutan sebagai sandaran rotan jernang pada proses pertumbuhannya.
  2. Tanaman rotan jernang tidak memerlukan perawatan ekstra seperti komoditi tanaman perkebunan yaitu kelapa sawit. Rotan jernang cukup dilakukan pembersihan dan penyiangan disekitar tanaman untuk memastikan ilalang tidak mengganggu pertumbuhan tanaman rotan jernang tersebut. Kemudian untuk pemupukan dapat diberikan pupuk kandang sesuai kebutuhan dalam kurun waktu setahun 2 (dua) kali.
  3. Rotan jernang tidak perlu dilakukan replanting (penanam kembali) karena sifat hidupnya pada jenis dragon blood yaitu dengan tumbuh berumpun dan beranak secara langsung dari pangkal batang, membuat jernang menjadi tanaman yang sangat pesat berkembang. Pada 1 (satu) rumpun tanaman dapat dijumpai 8 (delapan) hingga 10 (sepuluh) batang rotan jernang dan menghasilkan buah rata – rata 1 Kilo/d 2 Kilo perbatang.
  4. rotan jernang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dipasaaran. untuk jenis jernang dragon blood yang banyak tumbuh diwilayah Aceh, Riau, dan Jambi dihargai berkisar antara Rp. 250.000 hingga Rp. 400.000 /Kg buah basah. (Perkembangan harga tahun 2018) Dengan estimasi hasil panen buah satu batang 1 Kilogram. Maka apabila memiliki lahan satu hektar dengan jarak tanam 4 x 5 meter akan mendapatkan jumlah tanaman jernang sebanyak 500 rumpun dikali 10 batang setiap rumpun. Maka akan didapatkan jumlah batang dalam 1 ha berjumlah 5.000 batang rotan jernang. Apabila dijumlah kan setiap batang menghasilkan ½ Kilogram maka pada saat panen raya (buah serentak)akan didapati 2,5 ton/ha hasil panen buah jernang. Penentuan harga getah jernang dipengaruhi oleh kadar obat yang dimiliki oleh getah jernang tersebut yang dilakukan melalui uji lab, untuk dapat dipasarkan sesuai harga pasaran.
  5. Pemasaran mudah dan cenderung dicari oleh pasar internasional seperti Negara Cina, Singapur dan negara lain untuk kebutuhan ekspor dalam jumlah besar. Karena jernang merupakan
  6. bahan baku, obat – obatan : diare, disenteri, pembeku darah akibat luka,sakit gigi, asma, sipilis dan berjhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido)
  7. Bahan baku pewarna vernis, keramik, porselen, marmer, batu, kayu, rotan, bambu, cat dan kertas
  8. Bahan penyamakkan kulit
  9. Bahan baku kosmetik/lipastik, dll

(Sumber : Buku Budidaya Tanaman Rotan Jernang Kementerian Kehutanan Badan Penyuluahn dan Pengembangan SDM Kehutanan Pusat Penyuluhan Kehutanan Tahun 2013)

  1. Hama dan penyakit tidak banyak, dan tidak perlu perawatan ekstra
  2. Mudah tumbuh di berbagai lokasi baik toleran maupun intoleran, seperti di sela tanaman karet, sawit, hingga belukar. Namun dalam beberapa literatur disarankan untuk ditanam dibawah naungan tanaman/pohon.
  3. Hasil produk buah rotan jernang dapat dipasarkan dengan berbagai bentuk seperti:
  4. Buah basah
  5. Buah basah tanpa resin/getah
  6. Buah kering dengan getah
  7. Buah kering tanpa getah
  8. Tepung jernang
  9. Resin jernang

Informasi tambahan

  1. Harga jual bibit tanaman siap tanam yang memiliki tinggi 30 cm s/d 50 cm berada pada kisaran harga Rp. 30.000/btg. Untuk jenis dragon blood yang merupakan jenis terbaik dalam penghasil resin jernang
  2. Di Aceh merupakan pemasok terbesar bibit jenis dragon blood masyarakat aceh seperti di wilayah Bireun, Loksumawe dan daerah lainnya mulai membudidayakan tanaman rotan jernang dragon blood dan untuk dipasarkan ke wilayah – wilayah yang membutuhkan.
Bersama Bpk. Marasonang pelaku pembudidaya rotan jernang dragon blood di Kec. Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara

Semoga komoditi kehutanan yaitu rotan jernang dapat dikembangkan dan dibudidayakan untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *